Search This Blog

Saturday, 11 June 2022

Koleksi Raysoart Studio Patung

                                                 
                    DOKUMENTASI PROYEK PATUNG GAJAH DI PURA AGUNG BLANGBANGAN
 
 
Usaha kami bergerak di bidang seni patung beton atau resin, kami menerima pemesanan patung beton segala bentuk bisa dengan desain sendiri atau desain dari kami, melayani wilayah Bali atau luar Bali. untuk informasi lebih jelas bisa kontak kami via 
WA 081331382392 / 082237762305
atas Nama I GUSTI KOMANG RAI SARTIKA ( PAK RAI )
 
                    
                    
                                                    
                                          
                                                     

Tuesday, 26 May 2015

Pesan Dari Sosok Patung dan Relief di Berbagai Pura di Bali


Pesan Dari Sosok Patung dan Relief di Berbagai Pura di Bali

 Penulis Gusti Putra - Sep 7, 2014 
 
 Patung dan relief di Bali Salahsatu jenis destinasi wisata di Bali yang banyak dikunjungi oleh wisatawan adalah Pura, entah yang berdiri sendiri seperti Pura Tanah Lot atau yang berkelompok seperti komplek Pura Besakih. Dan obyek pemandangan yang selalu menarik bagi pengunjung adalah patung-patung dan relief-relief yang ada di dalamnya. Begitu banyak ragam patung dan relief di berbagai pura di Bali hingga tak heran jika meninggalkan beragam kesan bagi wisatawan. Namun jika dikelompokkan sesuai tampilan fisiknya, maka relief dan patung-patung di Bali menampilkan 4 ragam bentuk/wujud, setidaknya dalam pandangan penulis, yaitu: 1. Rupawan dan Indah, misalnya: Patung sosok Dewa yang rupawan atau Dewi yang cantik. Pokoknya serba indah dan enak dipandang mata. 2. Seram dan Menakutkan, misalnya: patung dan relief bersosok raksasa atau hewan mistis seperti Naga atau Garuda atau Macan yang juga tak kalah seramnya. Pokoknya bentuk-bentuk menakutkan. 3. Biasa saja Namun Lucu dan Menghibur, misalnya: patung bersosok manusia (biasanya punakawan atau ‘parekan’ dalam bahasa Bali). 4. Telanjang dan Vulgar, misalnya: patung telanjang atau relief yang di dalamnya menampilkan sosok-sosok bugil tanpa busana. Pertanyaan yang paling sering muncul sehubungan dengan ragam relief dan patung di Bali, terutama yang nampak aneh dalam pandangan pengunjung, adalah: “Mengapa wujud/sosoknya seperti itu? Mengapa ada yang nampak nyeleneh? Apa itu sesungguhnya?” Ada pula yang bertanya dengan nada agak ekstrim: “Apakah orang Bali menyembah batu-batu, dewa-dewa, sosok seram dan wujud-wujud bugil itu?” Entah sudah berapa kali penulis menerima pertanyaan senada dari kawan-kawan di luar atau orang asing (Bule) yang berkunjung ke Bali untuk pertamakalinya. Jika bertanya kepada lebih dari satu orang Bali maka jawaban atas pertanyaan di atas kemungkinan besar akan beragam. Sebab masing-masing patung dan relief di Bali memang bukan sekedar benda fisik yang bersifat hiasan semata. Melainkan simbul-simbul (baca: codex) yang diekspresikan oleh orang-orang khusus yang disebut “undagi,” dan mengandung “pesan” bermakna multi-dimensi. Makna-makna multi-dimensi itu lah yang membuat wujud patung dan relief di Bali bisa dijelaskan dalam berbagai versi. Ada yang menjelaskan dari sudut pandang kejadian masa lampau yang oleh orang Bali disebut “Babad,” ada yang menggunakan perspektif spiritual atau kerohanian, dan ada pula yang memaparkannya dari aspek nilai filosofis alias filsafat. Penulis pribadi tidak meenguasai Babad dengan baik. Sebagai gantinya, melalui artikel sederhana ini penulis akan menyampaikan pandangan pribadi dari aspek spiritualitas (niskala) dan filosofi (konsep) yang sudah barang tentu—sedikit/banyaknya—juga dipengaruhi oleh pemahaman mengenai ragam sudut-pandang yang selama ini lumrah berkembang di Bali. Patung dan relief di Tiga Wilayah Spiritual Jaba Mandala PuraSistim kepercayaan dan konsep Ketuhanan dunia Barat (baca: theology) tegas-tegas menekankan pentingnya bagi manusia untuk berbuat “baik.” Sedangkan dalam sistim kepercayaan masyarakat Hindu di Bali berbuat baik saja tidaklah cukup. Suatu perbuatan baik—dalam sistim kepercayaan umat Hindu di Bali—tidak boleh merusak tatanan yang ada. Dengan kata lain, perbuatan baik tak cukup hanya menyenangkan Tuhan dan segala manifestasinya saja, melainkan juga harus tetap menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya (manusia dan mahluk ciptaan Tuhan lainnya). Sebab, membina hubungan yang harmonis dengan mahluk lain adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh manusia untuk membuktikan kesungguhannya dalam memuja Tuhan. Sedangkan memuja Tuhan tanpa menajaga hubungan harmonis dengan mahluk ciptaanNYA yang lain sama saja dengan kepalsuan. Upaya menjaga hubungan harmonis ini dituangkan dalam tuntunan hidup praktikal yang disebut “Tri Hita Karana,” yakni konsep 3 hubungan harmonis antara: Manusia dengan Tuhan dan segala manifestasiNya (Parahiyangan); Manusia dengan manusia lainnya (Pawongan); dan Manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya (Palemahan). Lingkungan di Bali, terlebih-lebih areal Pura, bagi masyarakat Hindu setempat merupakan wilayah-wilayah spiritual. Agar upaya menjaga hubungan harmonis bisa terlaksana secara efektif, sesuai dengan tuntunan Tri Hita Karana, maka lingkungan yang ada dibagi menjadi 3 wilayah spiritual yang disebut “Mandala“. Konsep pembagian lingkungan menjadi 3 wilayah ini, khususnya di areal Pura, disebut dengan “Tri Mandala.” Masing-masing bagian dari 3 mandala ini menunjukkan ciri khas tersendiri dalam penempatan bangunan beserta segala isinya, termasuk patung dan relief, sesuai peruntukannya, yakni sbb: 1. Jaba Mandala Jaba Mandala (=wilayah luar) adalah wilayah Palemahan, yakni ruang untuk membina hubungan harmonis antara manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, termasuk para Buthakala (=entitas yang tak terlihat secara kasat mata). Nah, patung dan relief yang ditempatkan di wilayah ini biasanya yang bersosok SERAM/MENAKUTKAN yang merupakan representasi dari “mahluk ciptaan Tuhan lainnya,” entah itu yang bersosok raksasa atau hewan mistis seperti macan/ular/naga dan sejenisnya. Patung Buaya di Jaba Mandala Pura PerancakPatung Buaya di Jaba Mandala Pura Perancak. Image Source: Travelblog.org Dari perspektif SPIRITUAL, wilayah yang lumrah disebut “Jabaan Pura” ini mewakili fase “kegelapan” manusia yang samasekali belum memiliki kesadaran spiritual. Kondisi “gelap” ini dalam Hindu disebut ‘Awidya,’ yakni kondisi dimana manusia belum mengenal jati dirinya sebagai roh (spirit); masih menganggap diri sebagai “tubuh-yang-memiliki-roh,” lalu terjebak dalam dualitas yang pada akhirnya melahirkan ketakutan-ketakutan. Misalnya: takut dibenci, takut diabaikan, takut dispelekan, takut dihina, takut ditolak, takut rugi, takut gagal, takut miskian, takut sakit, takut menderita, takut kehilangan, dan takut mati. Padahal semua yang ditakuti itu adalah sisi lain dari apa yang manusia inginkan (dicintai, disayangi, dihargai, dihormati, diterima, untung, sukses, sejahtera, sehat, bahagia, menerima, hidup). Ketakutan-ketakutan tersebut kemudian mendorong manusia untuk bertindak semaunya tanpa etika dan moral thus menyerupai karakter hewan, atau bertindak kejam tanpa rasa welas asih thus menyerupai karakter raksasa, untuk sekedar mendapat keyakinan semu bahwa dirinya bisa terhindar dari kondisi-kondisi menakutkan tersebut. Lepas dari keyakinan ada atau tidak adanya sosok menakutkan dalam kehidupan nyata, bentuk patung dan relief bersosok menakutkan dan hewan mistis dalam wilayah ini mewakili kondisi gelap (awidya) dan dominasi rasa takut yang dialami oleh manusia, sebelum memiliki kesadaran spiritual. Mereka yang belum mengenal atau belum memahami konsep ini, tentunya memandang sosok di wilayah ini sebagai sosok yang seram dan menakutkan. Sebagian diantaranya mungkin menyebutnya sebagai sosok “Setan” atau “Iblis” dan yang sejenisnya. Padahal, sosok-sosok menakutkan itu adalah bayangan gelap dari manusia itu sendiri yang belum memiliki kesadaran spiritual. 2. Madia Mandala Madia Mandala (=wilayah tengah) adalah wilayah Pawongan, yakni ruang untuk membina hubungan harmonis antara manusia dengan manusia lainnya. Pada acara ‘Piodalan Ageng’ (=persembahyangan besar), oleh umat wilayah ini difungsikan sebagai tempat untuk mempersiapan acara persembahyangan. Misalnya: membuat dan menyiapkan peralatan sembahyang, memasak, makan dan istirahat. Sehingga yang terjadi di wilayah ini adalah interaksi manusia dengan manusia lainnya, sesama umat di Pura yang sama. Patung dan relief yang ditempatkan di wilayah ini biasanya jenis parekan (=punakawan) yang bersosok manusia sepenuhnya atau patung-patung yang digambarkan sebagai sosok bertubuh manusia namun masih berkepala raksasa. Dari perspektif SPIRITUAL, wilayah yang lumrah disebut “Jaba Tengah” ini mewakili fase kesadaran awal manusia akan jatidirinya; mulai tahu bahwa dirinya adalah “roh yang memiliki tubuh,” dan BUKAN “tubuh yang memiliki roh” seperti pada fase awidya di wilayah Jaba Mandala. Namun, kesadaran yang timbul dalam fase tengah ini belum mampu membawa manusia keluar dari jebakan dualitas; masih memandang gelap terpisah dari terang, penyakit terpisah dari kesehatan, kegagalan terpisah dari keberhasilan, derita terpisah dari bahagia, duka terpisah dari suka, dan kematian terpisah dari kelahiran. Padahal masing-masing merupakan satu kesatuan; hanya berada di sisi yang berbeda. Dengan kata lain, dalam fase ini manusia telah memiliki kesadaran spiritual namun belum mampu mengaplikasikannya ke dalam perilaku (pikiran-ucapan-dan-tindakan) sehari-hari. Jikapun sudah mulai mampu, kondisinya masih belum stabil, belum konsisten, masih angin-anginan; kadang ingat Tuhan kadang lupa, kadang rajin bersembahyang kadang malas, bersukur saat beruntung namun mengeluh saat apes, kadang rajin bermeditasi kadang malas, kadang ingat berpuasa kadang lupa, kadang sabar kadang tak sabar, kadang penyayang kadang kejam, KADANG SADAR KADANG TAK SADAR, dan KADANG WIDYA KADANG MASIH AWIDYA. Kesadaran yang masih bersifat fluktuatif inilah membuat seseorang sesekali masih menunjukkan perilaku hewani yang tuna-moral atau perialku keraksasaan yang kejam-bengis tanpa welas asih. Patung bertubuh manusia berkepala raksasa di wilayah Jaba Tengah ini mewakili karakter dan perilaku manusia yang masih cenderung berfluktuasi; kadang baik kadang jahat, kadang berbuat kebajikan kadang berbuat kejahatan, kadang sadar kadang tak sadar, dan kadang widya kadang awidya. Umat manusia di muka Bumi ini, mayoritas berada pada fase tengah ini dan berkesadaran fluktuatif. Itu sebabnya fase ini juga diwakili oleh patung-patung dan relief-relief bersosok manusia kebanyakan. Khusus di Bali, sosok manusia kebanyakan digambarkan sebagai sosok “Parekan” (=punakawan). 3. Utama Mandala Utama Mandala (=wilayah utama) adalah wilayah Parahiyangan, yakni ruang untuk membina hubungan harmonis antara Manusia dengan Tuhan dan segala manifestasinya. Konkretnya, tempat untuk melakukan aktivitas pemujaan terhadap Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Patung dan relief yang banyak ditemukan di wilayah Utama Mandala ini adalah yang bersosok DEWA-DEWI (=manifestasi Tuhan dalam menjalankan fungsi tertentu), yang berparas RUPAWAN. Sosok laki-lakinya berwajah tampan, sementara sosok wanitanya berparas cantik, lengkap dengan gelung indahnya. Sosok yang nyaris sempurna. Patung Dewa-Dewi di PuraPatung Dewa-Dewi Yang Rupawan. Courtesy: mintyhana.deviantart.com Dari perspektif SPIRITUAL, wilayah yang lumrah disebut “Jeroan” ini mewakili fase kesadaran spiritual yang sudah mendekati sempurna; telah terbebas dari jebakan dualitas; mampu melihat kebaikan-dan-keburukan sebagai 2 sisi dari satu keping koin logam. Dalam artian, hal-hal yang nampak kontradiktif di fase sebelumnya, kini telah nampak “sempurna sebagaimana adanya,” sirna segala ragu dan bimbang, tidak ada lagi yang perlu dipertentangkan, tidak ada lagi keluh-kesah, yang terisa hanya rasa kagum terhadap indahnya kesempurnaan REALITAS (baca: kebenaran) MAHA KARYA-NYA. Kondisi inilah yang oleh Pak Gede Prama biasanya diwakili dengan lagu “Lihat Kebunku (…semuanya indah)” atau “Di Sini Senang Di Sana Senang (…dimana-mana hatiku senang.)” Patung dan relief di wilayah Utama Mandala, yang nampak INDAH dan RUPAWAN itu, mewakili keindahan dari fase kesadaran spiritual yang mendekati kondisi sempurna. CATATAN: Patung dan Relief Telanjang Diantara tiga ragam yang telah disebutkan di atas, kadang ada (di sana-sini) patung atau relief yang TELANJANG , TANPA BUSANA alias BUGIL. Patung dan relief seperti ini bisa ada dimana saja diantara Jaba (luar), Madia (tengah) dan Utama (dalam) Mandala. Ini yang kerap menarik perhatian sekaligus mengundang pertanyaan pengunjung. Dari perspektif SPIRITUAL, tanpa busana atau telanjang atau bugil adalah suatu kondisi dimana seseorang melepaskan atribut-atribut/label-label/jabatan-jabatan/strata-strata dan hal-hal yang sifatnya hanya ‘bungkus’ luar, hingga yang tersisa hanya diri yang sejati, yakni roh/spirit murni yang bebas dari kontaminasi materialitas atau keduniawian. Melapaskan ‘bungkus’ adalah hal paling fundamental yang harus dilakukan oleh siapa saja yang menapaki jalan spiritual. Pesan inilah yang disampaikan lewat patung atau relief bersosok telanjang yang ada entah di dalam Pura atau dindingnya. Lalu, bagaimana pesan-pesan spiritual itu dilaksanakan? Aktivitas spiritual di Bali dilaksanakan secara berkala atau terjadwal, dan secara harian. Secara terjadwal persembahyangan dilakukan di berbagai pura pada hari-hari (suci) tertentu yang disebut “rerainan” ATAU pada bulan tertentu yang disebut “piodalan.” Saat bersembahyang di Pura, seseorang diharapkan bisa membedakan mana wilayah Jaba, Madia dan Utama Mandala Pura. Konkretnya sbb: Saat masih berada di luar areal Pura (Jaba Mandala/Jaba Pura), mungkin dia masih dipengaruhi oleh karakter/pemikiran yang cenderung bersifat hewani dan keraksasaan (awidya). Begitu akan memasuki wilayah tengah (Madia Mandala/Jaba Tengah) Pura, dia diperciki ‘Tirta’ (=air suci) dan ‘tepung tawar,’ maksudnya untuk mengingatkan agar melepaskan sifat-sifat hewani dan keraksasaannya guna menjadi manusia seutuhnya. Dan ketika akan memasuki wilayah Utama Mandala (Jeroan) Pura, dia harus melewati ‘candi kurung’ sebagai penanda sekaligus pengingat bahwa wilayah yang akan dimasuki adalah wilayah suci, wilayah dimana seseorang diharapkan sudah benar-benar terbebas samasekali dari karakter/pemikiran yang bersifat awidya guna bisa membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan segala manifestasinya. Setelah selesai acara persembahyangan, lalu ‘mepamit’ (keluar) dari pura, dia diharapkan tetap memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, yakni terus berupaya untuk melepaskan diri dari jebakan dualitas (kondisi awidya), sehingga terepleksi dalam pikiran-ucapan-dan-tindakan yang baik sehari-hari yang disebut dengan “Tri Kaya Parisudha,” dan mampu membina hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, lingkungan dan Tuhan dengan segala manifestasinya. Umat Hindu Saat Memasuki Areal PuraUmat Hindu Memasuki Pura Penataran Agung Besakih. Image Source: kura2guide.com Apakah itu benar-benar bisa dilaksanakan? Tak jauh berbeda dengan ajaran-ajaran lainnya, spirtualitas Hindu juga mudah diucapkan namun tak mudah dalam pelaksanaannya; melepaskan diri dari jebakan dualitas bukan sesuatu yang mudah. Menerima realitas (kebenaran) sebagai sesuatu yang telah sempurna—thus tak perlu dikeluhkan—juga tidak gampang. Namun, setidaknya, itulah pesan-pesan spiritual yang ingin disampaikan lewat ragam patung dan relief yang ada di berbagai Pura di Bali. Itulah arah jalan spiritual yang ditunjukkan. Perkara percaya simbul (codex) dan petunjuk yang disampaikan atau tidak, perkara mengikuti petunjuk itu atau tidak, tentunya dikembalikan pada individu masing-masing. Apakah menurut anda, penjelasan di atas masuk-akal? Bagi anda, semeton, yang lebih percaya pada akal (dan proses pencarian sendiri) dibandingkan simbul dan pesan sepiritual, saya ingin mengajak anda untuk melihat ragam patung dan relief ini dalam perspektif yang agak berbeda, yaitu dari “pemikiran” filosofis (baca yang berikut ini.) Patung dan Relief Sebagai Representasi Wajah Kebenaran Sebelum lebih jauh, kiranya perlu saya sampaikan bahwa apa yang akan saya uraikan pada bagian ini adalah murni hasil pemikiran dan kontemplasi saya pribadi. Jadi mohon untuk tidak repot-repot memikirkan rujukan atau referensi. Silahkan gunakan jika dirasa cocok dan abaikan jika sebaliknya. Dalam pandangan saya pribadi, ragam patung dan relief yang ada di berbagai Pura di Bali merupakan representasi dari “wajah kebenaran.” Apa itu kebenaran? Begitu sering kita mendengar kata “kebenaran.” Dan, begitu banyak orang dari berbagai macam latarbelakang (yang tentu memiliki motivasi berberbeda-beda) mengungkapkan definisinya. Ada 2 model kebenaran yang paling banyak digunakan sampai saat ini, yaitu: 1. Kebenaran atas dasar keyakinan (baca: kebenaran iman), dimana sesuatu menjadi benar semata-mata karena DIYAKINI. Model kebenaran ini berasal dari konsep-konsep sistim keperayaan, terutama sistim kepercayaan dunia barat yang menarik garis pembatas antara “benar” dengan “salah” secara tegas berdasarkan doktrin dan dalil-dalil agama. Sesuatu disebut kebenaran bila sesuai dengan doktrin dan dalil agama, dan disebut ketidakbenaran bila bertentangan. 2. Kebenaran atas dasar konsensus (baca: kebenaran konsensus), dimana sesuatu menjadi benar semata-mata karena DISEPAKATI. Model kebenaran ini berasal dari konsep-konsep sistim sosial-politik yang menarik garis pembatas antara “benar” dan “salah” secara tegas berdasarkan dalil-dalik hukum dan kesepakatan-kesepakatan (Konvensi, Undang-Undang, Kepres, Kepmen, Perda, Awig Adat, dlsb). Sesuatu disebut kebenaran bila sesuai dengan UU atau peraturan, dan disebut ketidakbenaran bila bertentangan. Meskipun sumber dan landasannya berbeda, kedua model kebenaran ini memiliki persamaan pola, yakni: kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang bersifat “baik” thus harus dipatuhi dan ditegakkan. Sedangkan ketidakbenaran bersifat “buruk” thus harus dicegah, dibuang jauh-jauh, dihindari, diberantas. Dan dalam kondisi tertentu, jika perlu, kebenaran harus dibela agar jangan sampai dikalahkan oleh ketidakbenaran. Kelemahan dari kedua model ini, setidaknya dari sudut pandang filsafat, adalah sama-sama hanya bersumber dari konsepsi dan persepsi belaka. Sementara, konsepsi dan persepsi masing-masing individu bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan latarbelakang pengalamannya. Hal inilah yang kemudian membuat kedua model kebenaran ini tidak bersifat unviversal; nilai kebenarannya hanya berlaku di suatu komunitas/wilayah tertentu saja. Konflik KebenaranIlustrasi: pembantaian oleh ISIS. Image Source: Dailysurge.com Masalah utama dari kedua model kebenaran di atas adalah sama-sama bisa menjadi pemicu konflik ketika suatu model kebenaran berbenturan dengan model kebenaran lainnya. Di sepanjang sejarah manusia, setidaknya sejak tahun 1 Masehi hingga sekarang, konflik model kebenaran iman (agama)-dan-konsensus (politik)-lah yang paling banyak menimbulkan chaos, huru-hara, dan bentuk kekecauan lainnya yang menelan banyak korban. Yang sedikit lebih universal dibandingkan kebenaran iman dan konsensus adalah kebenaran atas dasar SAINS, dimana sesuatu dikatakan sebuah kebenaran hanya bila telah melalui UJI KEILMUAN (sains). Model kebenaran ini berasal dari observasi-observasi dan pengumpulan bukti (baca: data) yang kemudian diuji dengan menggunakan metode ilmiah tertentu. Kelemahan terbesar dari model kebenaran sains adalah adanya generalisasi dalam proses penyimpulannya, sementara setiap entitas di alam semesta bersifat unik (tidak bisa digeneralisasi). Kelemahan berikutnya dari model ini adalah sifatnya yang temporal (hanya benar sampai muncul temuan baru beserta pengujian yang menunjukkan hal berbeda.) Adakah model kebenaran yang bersifat universal dan absolut? Satu-satunya model kebenaran yang sungguh-sungguh bersifat universal dan absolut adalah kebenaran REALITAS, dimana sesuatu dipandang sebagai sebuah kebenaran bila berupa realitas murni yang tidak atau belum terkontaminasi oleh persepsi, konsepsi, atribut dan pemikiran-pemikiran subyektif. Misalnya: Apa kebenaran Anda? Dalam pandangan filsafat, Anda adalah “anda sendiri sebagaimana adanya” yang samasekali bebas dari embel-embel nama/senioritas/profesi/kasta/strata-ekonomi/latarbelakang-pendidikan/gender/orientasi-seks/suku/etnis/agama/kepercayaan/ras/golongan/bangsa/dll, samasekali tidak termanipulasi oleh persepsi dan konsepsi. Lepaskanlah “topeng” yang melekat, lalu apapun yang nampak setelahnya itulah realitas anda yang sebenar-benarnya. Model kebenaran ini lah yang digunakan dalam Filsafat, termasuk Filsafat Hindu. Kebenaran dalam filsafat Hindu adalah REALITAS MURNI (sebagaimana adanya). Sedangkan embel-embel atribut yang nampak dalam pandangan manusia bukanlah bagian dari kebenaran itu sendiri, melainkan hanya “WAJAH KEBENARAN” yang berasal dari persepsi dan konsepsi yang dihasilkan oleh logika dan ego manusia. Topeng BaliIlustrasi: Topeng. Courtesy: Balinesedans.nl Nah, “wajah kebenaran” inilah yang bersifat relative thus nampak beragam sesuai dengan kesadaran spiritual masing-masing, seperti wujud/sosok patung dan relief yang ada di berbagai pura di Bali yang juga beragam. Di mata manusia yang telah terbebas dari jebakan dualitas, kebenaran nampak INDAH DAN RUPAWAN, seindah dan serupawan patung-patung dan relief-relief yang ada di berbagai Pura di Bali. Bagi mereka, realitas tetaplah realitas, kebenaran tetaplah kebenaran, maha karyaNYA yang telah sempurna, thus nampak indah terlepas dari apapun wujudnya; baik itu keberhasilan-atau-kegagagalan, kaya-atau-miskin, suka-atau-duka, bahagia-atau-derita, hidup-atau mati, keduanya sama-sama realitas, keduanya sama-sama kebenaran yang telah sempurna . Pribadi seperti inilah yang disebut sebagai orang yang “sudah mampu melihat kebenaran.” Sebaliknya, bagi mereka yang tak berani menghadapi realitas, sebagian dari kebenaran (terutama yang tidak diinginkan) nampak SERAM, seseram patung dan relief yang ada di berbagai pura di Bali. Bagi mereka, kebenaran itu adalah mimpi buruk, momok yang sungguh menakutkan. Begitu menakutkan sehingga ada yang sampai lari terbirit-birit, menjauh dari kebenaran, bahkan ada yang sampai stroke ketika dihadapkan pada kebenaran, saking takutnya. Lalu, di mata mereka yang tak tahu atau tak mau tahu, kebenaran hanyalah PERMAINAN, permainan pikiran atau kata-kata, sekadar LELUCON untuk ditertawakan. Terakhir, bagi mereka yang merasa bermoral tinggi, realitas adalah sesuatu yang VULGAR bahkan PORNO, sehigga di mata mereka kebenaran yang TELANJANG BULAT adalah sesuatu yang memalukan. Mungkin itu sebabnya mengapa mereka buru-buru menutupi setiap kebenaran hadir, sebelum sempat mempermalukan dirinya. Begitulah ragam wajah kebenaran di mata manusia, sama seperti ragam patung dan relief yang ada diberbagai pura di Bali; ada yang nampak indah nan rupawan, ada yang nampak menakutkan, ada yang nampak jenaka, dan ada pula yang terlihat telanjang bulat, vulgar thus dinilai porno oleh sebagian manusia. Namun bagiamanapun juga, setidaknya dalam pandangan filsafat Hindu, kebenaran tetaplah kebenaran, sebuah realitas murni “sebagaimana adanya” terlepas dari apapun persepsi dan konsepsi manusia.

Tuesday, 31 March 2015

PATUNG FIBERGLASS



PROJEK PATUNG KUDA 
 

Menerima pesanan patung fiberglass/resin sesuai dengan desain anda
ALAMAT: JL.DENPASAR-GILIMANUK NO 115 MENDOYO DAUH TUKAD - MENDOYO - JEMBRANA - BALI
 WA 081331382392
Atas Nama I Gusti Komang Rai Sartika (Rayso/ Pak Rai)
Email: raisartika@gmail.com



















Translit bhs inggris English
Bhs Indonesia Indonesian

Sunday, 4 August 2013

Raih Penghargaan Presiden

 Raysoart

 

Raih Penghargaan Presiden

 

      Kerja keras seniman patung Sarwadi membuahkan hasil membanggakan, pada tahun 2012 ia dianugerahi penghargaan Kreasi Prima Mutu 2012 pemerintah RI yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara. Kesuksesan Industri Kecil Menengah (IKM) Sari Kecana yang bergerak dalam bidang pembuatan patung, di Jalan Denpasar Gilimanuk, Banjar Tengah, Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, tidak lepas dari peran seniman patung I Gusti Kade Ari Sarwadi. Nama IKM mulai melejit dan dikenal di pasaran lokal Bali hingga luar Bali setelah pria kelahiran 22 Juni 1977 ini meneruskan usaha warisan almarhum ayahnya, I Gusti Kade Sarken (pendiri IKM), di tahun 2000 lalu.





Nama Sari Kecana yang didirikan pada tahun 1998 merupakan kepanjangan dari nama pendiri almarhum Sarken. Sewaktu terbentuk dan dipegang Sarken, pembuatan patung di tempat ini belum dipasarkan secara luas. Hanya dilakukan pembuatan sesuai pesanan dari lokalan Bumi Makepung. Namun semenjak dikendalikan oleh Sarwadi  dibantu adik kandungnya, I Guti Komang Rai Sartika (33) lulusan ISI Denpasar, produksi patung terus diperbanyak.


 Karena banyaknya koleksi patung di sanggarnya menarik minat masyarakat. Kebetulan tempat memajang karya seni tersebut berada di pinggir jalan utama Denpasar-Gilimanuk, tepatnya di Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Jembrana. Beberapa pengusaha toko yang menjual patung dari lokal dan luar kabupaten juga banyak yang membeli karya seni tersebut. Diantaranya toko-toko patung  di Klungkung, Kapal, Buleleng,  Gianyar dan lainnya menjadi langganan tetap seniman patung asal Bumi Makepung tersebut.


Untuk pasar lokal Bali, yang paling diminati adalah patung yang biasa digunakan di tempat persembahyangan, seperti tokoh pewayangan jenis Dewatanawasanga. “Patung untuk penghias rumah dan taman juga sering diburu pembeli. Setelah terus kami produksi dan buat kreasi, semakin banyak yang nyari. Begitu juga pesanan dari luar daerah seperti Lombok, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera, terus mengalir,” tuturnya saat Bali Tribune mengunjungi sanggar seninya beberapa waktu lalu.

 Namun kepercayaan pangsa pasar tersebut tidak mudah didapatkan. Sebab sejak awal dia memiliki komitmen dalam berkarya, yakni kepuasan konsumen. Motif dan detail dari patung yang dihasilkan selalu lebih disempurnakan. Karenanya, hasil kreasi patung yang dibuat selalu menjadi idola para pelanggan tetapnya yang tergugah dari kreasi baru.



Meskipun karya-karya seninya telah merambah pasar luar Bali, ternyata Sarwadi masih menemui beberapa kendala yakni dari 25 tenaga kerja yang dimilikinya, belum seluruhnya mahir, sehingga menjadi masalah ketika kebanjiran order. Namun, dengan keyakinan dan kesabaran dia terus mengajarkan dan membina karyawannya agar mahir menguasai teknik pembuatan patung.
Selain membuat patung untuk dipasarkan, Sarwadi bersama adiknya juga membuat patung untuk dipamerkan. Khusus untuk karya seni yang khusus dipamerkan, biasanya Sarwadi dan adiknya yang mengerjakan.

Raih Penghargaan Presiden
Kerja keras Sarwadi bersama adiknya ternyata membuahkan hasil, pada tahun 2012 menerima penghargaan dari Presiden RI. Sarwadi dianugrahi penghargaan Kreasi Prima Mutu 2012 yang diserahkan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Jumat (7/12). Kreasi Prima Mutu merupakan penghargaan pemerintah kepada perusahaan IKM yang telah mampu meletakkan budaya kerja melalui penerapan Pengendalian Mutu Terpadu (PMT) dan Gugus Kendali Mutu (GKM) yang dilaksankan secara konsisten dan kontinyu dengan memberikan dampak terhadap kemajuan kinerja perusahaan.


Penghargaan Kreasi Prima Mutu mulai dirintis sejak tahun 2009 oleh Dirjen IKM Kementrian Perindustrian. Berarti penghargaan Kreasi Prima Mutu di tahun 2012 merupakan yang ke-4, terdapat 7 IKM se-Indonesia yang meraih penghargaan teresebut. Membanggakan, salah satu dari penghargaan tersebut diraih oleh IKM Sari Kencana, di Banjar Tengah, Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Jemrbana.
Untuk meraih penghargaan tersebut tidaklah mudah, perlu proses panjang, juga tidak terlapas adanya koordinasi dengan instansi teknis yakni Disperindagkop Jembrana. “Ya, sambil saya belajar untuk perkembangan, dalam perjalanannya juga ikut pelatihan-pelatihan. Ada lima tahunan saya ikuti sampai akhirnya dapat pengargaan ini,” ungkapnya. ded

Wednesday, 31 July 2013

FENOMENA SENI PATUNG JEMBRANA



   RAYSOART 


 
Kesenian Jembrana                                                                                           

Ketika  berbicara seni  yang ada di Jembrana, sudah pasti yang paling terkenal   adalah kesenian Jegog (gambelan bambu khas Jembrana) dan  Mekepung (pacuan kerbau ) yang sudah menjadi aikon kabupaten Jembrana. Ada kebanggaan tersendiri sebagai masyarakat Jembrana ketika melihat kebesaran seni jegog Jembrana yang gaungnya terdengar hingga kemancanegara. Sehingga  mampu mengangkat nama Jembrana yang hanya dengan berbekal lokal genius yang dimiliki oleh para leluhur terdahulu masyarakat Jembrana, merupakan daya tarik yang sangat luar biasa bagi dunia. Lantas bagaimana dengan seni yang lain yang ada di Jembrana, seperti seni patung atau seni lukis….?  Mengapa seni patung dan lukis sangat jarang ditemui di Jembrana …?

Prasejarah seni patung Jembrana

  Sebelum ditemukannya tulisan dimanapun itu berada berarti wilayah tersebut masih dalam posisi prasejarah , begitu juga dengan belum ditemukannya tulisan-tulisan yang mengarah pada penjelasan tentang seni rupa patung bahwa di Jembrana juga mengalami prasejarah dalam hal seni rupa patung, meski pada kenyataannya banyak patung yang terpajang ditaman-taman kota ataupun di jalan-jalan sebagai fungsi mengatur lalu-lintas atau pun memperindah taman kota, namun belum ada tulisan atau penulis yang mencatat kapan seni rupa patung di Jembrana dimulai ? dan siapa yang memulai ? Dengan belum adanya tulisan yang mencatat perjalanan sejarah seni rupa patung di Jembrana, situasi inilah yang disebut dengan prasejarah seni rupa patung di Jembrana.
Menginjak masa sejarah seni rupa patung Jembrana                               
Untuk mengetahui faktor apa yang mempengaruhi minimnya perkembangan seni rupa di Jembrana  belum bisa diprediksi secara spesifik khususnya seni rupa patung. Jika seni jegog dan mekepung di Jembrana merupakan sebuah warisan budaya
turun-temurun dari leluhur terdahulu, maka saat inilah seni rupa patung menancapkan ketajaman pahat seninya untuk mencatat sejarah kemunculan seni rupa patung di Jembrana yang akan menjadi warisan seni turun-menurun bagi generasi berikutnya. Penulis yakin Jembrana kedepan akan berkembang menjadi daerah yang memiliki potensi yang besar dalam  berkreatifitas dan berkesenian. Sehingga bisa memberi makna dan menjadi warna bagi kehidupan sosial dan budaya di Jembrana sehingga dunia pun akan tahu keindahan budaya Jembrana yang sejati.  
                  

Masa depan seni Jembrana
Seiring dengan berkembangnya pembangunan yang ada di Jembrana perlahan akan memberikan dampak positif bagi perkembangan seni rupa patung, dimana kebutuhan akan seni patung pun terus meningkat, sehingga memberikan ruang kreatifitas bagi generasi muda Jembrana yang memiliki kecintaan terhadap seni rupa patung. Disisi lain juga mampu menciptakan peluang kerja bagi setiap orang yang memiliki minat di bidang seni rupa patung sehingga memberikan dampak positif untuk generasi muda Jembrana yang cinta akan seni patung, merangsang generasi muda untuk mau mengembangkan berkreatifitas berkesenian dengan harapan terwujudnya dunia seni rupa patung di Jembrana. sehingga masyarakat pun menyadari akan pentingnya seni dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih untuk umat Hindu, karena seni patung sangat erat kaitanya dengan tempat suci umat beragama Hindu di Bali. 

                     
Fenomena  seni  patung  Jembrana
Dengan kemunculan salah satu pematung otodidak asli asal  Jembrana sangatlah berpengaruh bagi masa depan  seni rupa patung di Jembrana, atas pengabdian dan perjuangan yang panjang beliau mampu menciptakan iklim seni melalui komunitas seni yang dibentuknya. Atas sumbangsih  dan pengabdian beliaulah seni patung di Jembrana bisa muncul dan bermanfaat bagi masyarakat luas pada umumnya dan masyarakat Jembrana pada khususnya.   Berkat beliaulah berhasil terbentuk sebuah komunitas seni ’’SARI KENCANA’’ yang bergerak di bidang kerajinan patung beton di Jembrana, yang kini terletak di Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, dan ini merupakan sebuah fenomena baru didunia seni rupa bagi Jembrana, karena membangun dan mengembangkan sebuah komunitas seni patung sangatlah tidak mudah didaerah yang tidak memiliki akses pariwisata
                                    .
Tokoh seni patung Jembrana
Kemunculan sebuah komunitas pematung  di Jembrana lahir dengan perjuangan yang panjang dari perjalanan hidup seorang tokoh pematung yang memiliki bakat dan kecerdasan alami beliau adalah I Gusti Kade Sarken alm, beliau lahir tahun 1949-2008 di Jembrana. Karya-karya patung beliau pada saat beliau masih hidup sangatlah erat dengan nuansa tradisional seperti tokoh-tokoh pewayangan dalam cerita Mahabrata dan Ramayana dengan mempertajam pengkarakteran tokoh-tokohnya dan mampu menghasilkan visualisasi gaya yang sangat khas dengan budaya Jembrana, yang bukan merupakan pengaruh perkembangan seni yang ada didaerah lain di Bali seperti Gianyar dan Ubud, atupun dari pengaruh seni rupa yang ada diluar Bali

                 
                            

Saturday, 23 March 2013



     Saya ingin masyarakat untuk menikmati karya-karya yang menyenangkan secara visual ini...tapi ada juga kepedulian yang kedua bagi seniman bicarakan, yaitu kegelisahan mereka sebagai seniman pasca-reformasi yang melihat perubahan dalam masyarakat Indonesia setelah reformasi. Ada kegelisahan tentang bagaimana generasi muda di Indonesia bisa merasa apatis dan puas diri dengan situasi Indonesia saat ini.
Tapi kesuksesan karya mereka adalah kemampuan mengangkat isu budaya dan politik secara ringan, dan bahkan lucu dan menyenangkan.


    Kalau kita bicara tentang transisi kebudayaan Indonesia, secara otomatis kita berbicara tentang hubungan Indonesia dengan negara lain atau kebudayaan lain yang selama ribuan tahun terjadi, ada yang datang kemudian berubah, ada yang datang lagi kemudian berubah. Dari cara kebudayaan ini bertemu, berubah, dan bernegosiasi, ada banyak yang bisa di-share untuk orang lain, karena persoalan bertemu dengan yang asing itu persoalan semua orang, bukan hanya persoalan orang Indonesia saja,” 
 Pertemuan, negosiasi, dan perubahan ini, menurut saya sekarang semakin cepat terjadi dan menuntut sebuah budaya baru dalam proses negosiasi dengan yang asing.






 


   Semakin hari saya melihat yang dihadapi atau dijumpai oleh kebudayaan Indonesia saat ini jelaslah semakin kompleks, semakin lebar, ada fasilitas komunikasi yang demikian mudah, jadi pertukaran-pertukaran itu lebih cepat, lebih pragmatis, dan saya pikir perlu satu kebudayaan baru dalam menghadapi yang asing.
        





   

  Politik bukanlah sesuatu yang dipisahkan dari kehidupan sehari-hari di Indonesia.Kalau Anda hidup di Indonesia, Anda akan mengerti bagaimana tidak mungkinnya memisahkan politik dari kehidupan sehari-hari. Hampir 90% karya seni yang dibuat di sini adalah respon terhadap atau dipengaruhi oleh kondisi sosio-politik keadaan sekitar kami.